"Jepang bahkan sudah mengembangkan sagu sebagai obat diabetes," kata Freddy Numberi di jakarta, Rabu.
Mantan menteri perhubungan dan menteri kelautan dan perikanan itu mengatakan masyarakat Papua terkesan dipaksakan untuk mengkonsumsi beras oleh pemerintah Orde Baru.
"Padahal makanan utama orang Papua adalah sagu yang kaya manfaat. Sewaktu saya jadi gubernur, tidak ada nasi yang dihidangkan di atas meja. Semuanya harus sagu," katanya.
Dia mengatakan diversifikasi bahan pangan seperti sagu diperlukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional. Menurut Freddy, dia sudah beberapa membicarakan potensi sagu dengan presiden tetapi belum ada hasil yang memuaskan.
Freddy menuturkan sagu bagi masyarakat Papua memiliki karakter yang berbeda dibandingkan beras. Apabila beras harus ditanam di sawah, sagu bagaikan sudah diberikan oleh Tuhan karena banyak tanaman sagu yang tumbuh meskipun tanpa ditanam.
Namun, saat ini hutan sagu sudah mulai berkurang karena banyaknya alih fungsi lahan untuk permukiman karena belum ada rencana tata ruang yang jelas.
Karena itu, Freddy mendesak pemerintah untuk membentuk Dewan Ketahanan Pangan Nasional hingga kabupaten dan kota untuk mempertahankan lahan-lahan pangan seperti hutan sagu yang ada di Papua.
"Dewan ketahanan pangan harus membuat zonasi yang jelas untuk lahan pangan. Saya mengusulkan adanya lahan sagu abadi yang diatur dalam peraturan daerah sehingga siapa pun yang menjabat tidak boleh memberikan izin alih fungsi," tuturnya.
Freddy menjadi salah satu pembicara dalam diskusi "Pengembangan Industrialisasi Sagu Berbasis Inovasi Teknologi untuk Membangun Ketahanan Pangan Nasional" yang diadakan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek).
Selain Freddy, pembicara lainnya antara lain Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Rudy Tjahjohutomo, pakar agronomi Institut Pertanian Bogor Prof Bintoro dan Direktur Pusat Teknologi Agroindustri BPPT Priyo Atmaji.
Editor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026