Analis pasar uang Valbury Asia Futures Lukman Leong?di Jakarta, Kamis, mengatakan nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan masih terpengaruh sentimen negatif eksternal, terutama dari Turki.
"Melemahnya rupiah hari ini (16/8) wajar karena belum ada faktor yang menopang penguatan rupiah, kecuali ada intervensi yang masif," ujarnya.
Sentimen dari dalam negeri, menurut dia, pelaku pasar uang masih mencermati keterangan pemerintah atas RUU APBN 2019 beserta nota keuangannya, pada hari ini (16/8), sehingga fluktuasi rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS.
"Efek positif dari RAPBN tertahan sentimen eksternal yang datang dari Turki dan perang dagang," ucapnya.
Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM, Jameel Ahmad menambahkan memburuknya ketegangan dagang dan diplomatik antara Amerika Serikat dan Turki menunjukkan bahwa perang dagang global bukan hanya melibatkan Amerika Serikat dan Tiongkok.
"Ada banyak ekonomi lainnya di seluruh dunia yang merasa terganggu oleh proteksionisme pemerintahan Trump," katanya.
Sementara itu, kurs tengah BI pada hari ini (16/8), tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.619 dibanding sebelumnya (15/8) di posisi Rp14.621 per dolar AS.
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.