Berdasarkan pantauan ANTARA, Selasa (18/11), SPBU di Jalan Nani Wartabone tampak hanya puluhan kendaraan roda dua dan roda empat yang sedang mengantri premium.
"Buat apa panik, toh sudah naik juga. Yang paling penting menurut saya adalah BBM bersubsidi jangan sampai langka, itu yang justru bikin kami panik," kata salah seorang pengendara mobil, Jufri Gani (32).
Ia menilai kenaikan BBM tak perlu diperdebatkan lagi, namun warga dan seluruh pihak harus menagih konsistensi pemerintah akan pasokan BBM yang cukup di setiap daerah.
Sementara itu, para petugas SPBU mengaku waspada dengan kemungkinan adanya aksi unjuk rasa sejumlah elemen di bundaran Patung Saronde.
"Kami berharap pihak kepolisian tidak membiarkan mahasiswa masuk ke SPBU karena pelayanan bisa terganggu," kata seorang petugas SPBU, Amin.
Sebelumnya dalam rilisnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, saat ini ketahanan stok BBM yang dikelola oleh Pertamina mencapai sekitar 18 hari untuk premium dan sekitar 19 hari untuk solar.
Pertamina, tuturnya, telah mempersiapkan ketersediaan BBM yang cukup untuk mengakomodasi kemungkinan lonjakan konsumsi setelah pengumuman resmi kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi oleh pemerintah.
Berdasarkan pantuan penyaluran harian dalam sebulan terakhir, terjadi peningkatan konsumsi harian BBM bersubsidi yaitu premium dari semula 81.500 KL per hari , menjadi sekitar 87.000 KL per hari atau naik sekitar 7 persen.
Sementara solar dari 44.500 KL per hari menjadi sekitar 47.000 KL per hari, atau naik sekitar 6 persen. Tren kenaikan tersebut juga pernah terjadi pada saat menjelang pengumuman kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi pada tahun 2013.
Untuk itu, lanjutnya, Pertamina telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk memastikan pasokan BBM bagi masyarakat tetap aman diantaranya dengan membentuk Posko Satgas Kenaikan Harga BBM di Kantor Pusat dan seluruh Kantor Region Pertamina.
Pewarta: Debby Hariyanti ManoEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.