Shangha (ANTARA GORONTALO) - Indonesia berpotensi memanfaatkan perubahan gaya hidup kalangan remaja China melalui kopi sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan nonmigas.

"Remaja China sekarang mulai gemar minum kopi sebagai perubahan gaya hidup dari generasi sebelumnya yang suka minum teh," kata Konsul Jenderal RI di Shanghai, Siti Nugraha Mauludiah, Selasa.

Menurut dia, kopi sudah mulai menjadi tren gaya hidup di daratan Tiongkok itu. Bahkan Starbucks, ritel kopi berjaringan global, baru-baru ini membuka gerai baru di Shanghai yang disebut-sebut sebagai gerai terbesar di luar daratan Amerika Serikat.

"Mungkin nantinya, kopi yang diekspor ke China sudah dalam bentuk `roasted coffee beans` (biji kopi matang)," ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, Indonesia mengekspor kopi ke China dalam bentuk biji mentah.

"Pasar kopi di China masih sangat terbuka dan terus berkembang," kata perempuan yang akrab disapa Nining itu menambahkan.

Ia menyebutkan pada periode Januari-September 2017, China mengimpor kopi dari berbagai negara dengan nilai keseluruhan 567 juta dolar AS.

Dari jumlah itu China mendatangkan kopi dari Indonesia senilai 34 juta dolar AS atau masih tertinggal jauh dari Vietnam.

Indonesia dan China memiliki sejarah panjang dalam bidang perdagangan kopi. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu atau pada era Dinasti Tang, para pedagang China mendarat di Nusantara menawarkan keramik dan sutera yang ditukar dengan berbagai komoditas pertanian, terutama kopi dan lada.

Sebagian besar penggemar kopi di daratan Tiongkok sangat mengenali kopi luwak sebagai keistimewaan kopi dari Indonesia yang tidak ada duanya.

"Waktu mendapatkan kesempatan ke Indonesia beberapa waktu lalu, saya memborong kopi luwak," kata Wang Xiao Fei, penggemar kopi asal Beijing.

Pewarta:

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2017