Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Nasaruddin Umar berharap Bandara Taif di Arab Saudi dapat segera digunakan oleh jamaah haji Indonesia karena akan membantu efektivitas serta mobilisasi jamaah dari atau ke Makkah.

"Itu (Bandara Taif) banyak sekali efektivitas yang bisa kita lakukan kalau kita punya bandara lain," ujar Menag saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Arab Saudi, Kamis.

Nasaruddin mengatakan apabila Bandara Taif bisa digunakan, maka dapat mengurangi masa tinggal jamaah haji dari 40 hari menjadi 30 hari. Kondisi ini juga akan berimplikasi pada biaya haji yang dapat ditekan.

Selama ini, jamaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, menggunakan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) di Madinah untuk penerbangan haji.

Bandara Taif ini sudah dilengkapi dua landasan pacu yang mampu melayani pesawat berbadan lebar, seperti Boeing maupun Airbus.

 

Operasionalnya juga berlangsung 24 jam. Saat ini, Bandara Taif telah melayani penerbangan dari 11 maskapai internasional dan domestik, termasuk dari Iran, Mesir, dan Qatar.

Meski demikian, ada sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan, terutama terkait kapasitas terminal internasional yang saat ini hanya mampu menampung sekitar 500 penumpang.

"Karena yang membuat kita lama ini adalah bandara sedemikian padat ya bandara itu (Jeddah dan AMAA Madinah) dan ada standar internasional yang tidak bisa kita dan Saudi Arabia harus taat," kata Menag.

Dari hasil pertemuan dengan otoritas Arab Saudi, pemerintah setempat telah memberikan lampu hijau penggunaan Bandara Taif untuk jamaah haji Indonesia.

"Nah kalau bandaranya nanti dipakai di Taif misalnya untuk Indonesia bahwa itu bisa lebih longgar. Insya Allah nanti ke depan bisa diselesaikan seri konferensi," ujar Menag.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menag harap Bandara Taif dapat digunakan oleh jamaah haji Indonesia

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026