Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memaparkan sederet upaya pihaknya guna membangun relasi yang baik dan harmonis antara sekolah, murid dan orang tua sebagai Trisentra pendidikan.
Ia mengatakan Kemendikdasmen telah menerbitkan sederet aturan guna membentuk karakter murid, termasuk salah satunya melalui penerbitan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
“Jadi kami menggunakan pendekatan yang humanis, partisipatif, dan komprehensif. Itu tiga kata kunci dalam Permendikdasmen nomor 6 tahun 2026,” kata Mendikdasmen Mu'ti di Jakarta pada Senin.
Dalam implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, ia menyebutkan terdapat empat aspek utama yang menjadi fokus, yakni pemenuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, serta keamanan sosiokultural dan digital.
Sekolah, kata Mu'ti, perlu melakukan penguatan tata kelola, edukasi warga sekolah, serta penguatan peran seluruh unsur sekolah melalui manajemen kelas.
Selain Permendikdasmen tersebut, ia menambahkan pihaknya juga mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) Nomor 17 Tahun 2026.
Ia pun menegaskan aturan yang ada sudah jelas mengatur batas-batas penegakan aturan hingga penanggulangan bila terjadi kasus.
Menurut Mu'ti, kasus kekerasan di satuan pendidikan di luar tindakan kriminal atau kekerasan seksual, sebaiknya diselesaikan secara musyawarah di dalam satuan pendidikan.
"Kesepakatan kami dengan Pak Kapolri sudah berjalan dengan restorative justice. Polisi tidak bisa menolak laporan masyarakat, tetapi bisa dengan restorative justice dan kami ingin perkuat itu," katanya menegaskan.
Selain itu, Kemendikdasmen juga melakukan peningkatan manajemen sumber daya manusia di sekolah.
Pihaknya menilai paradigma penanganan karakter murid bukan hanya menjadi tanggung jawab guru bimbingan konseling (BK), tetapi harus diperluas kepada seluruh guru di sekolah.
Karena itu, ia mengatakan Kemendikdasmen juga telah mengeluarkan kebijakan mengenai guru wali, yakni guru mata pelajaran di jenjang SMP dan SMA/SMK yang ditugaskan untuk mendampingi siswa secara intensif dan jangka panjang, mulai dari mereka masuk hingga lulus.
Mu'ti menerangkan tugas guru wali ialah mencakup bimbingan akademik, kompetensi, keterampilan, hingga karakter murid.
Selain itu, lanjutnya, guru wali juga berperan sebagai jembatan komunikasi antara siswa, orangtua, dan pihak sekolah, termasuk berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas.
Peran ini, kata dia, berbeda dengan wali kelas yang lebih fokus pada tugas administratif harian kelas dan guru BK yang fokus pada layanan konseling.
Selain itu, pihaknya juga menerapkan hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yakni pelajaran, nilai, sikap, dan norma tidak tertulis yang dipelajari siswa di sekolah melalui interaksi sosial, kebijakan, dan budaya sekolah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan.
"Misalnya mengajarkan mereka tertib antre itu tidak harus pakai mata pelajaran, tetapi bisa ditanamkan dengan antre mengambil MBG. Kalau MBG diantar ke meja siswa langsung, menurut saya itu tidak membentuk karakter. Supaya terbentuk karakternya, taruh saja di depan kemudian antre mengambil MBG, makan, hingga antre mengembalikannya," kata Mu'ti.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mendikdasmen paparkan sederet upaya bangun relasi baik di sekolah
Pewarta: Hana Dewi Kinarina KabanEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026