Gorontalo (ANTARA) - Ketua Panitia sekaligus Ketua Motoyungo Elen Said di Gorontalo, Minggu mengatakan pihaknya secara resmi memperkenalkan program inovatif yakni tukar sampah dengan bahan makanan dalam aksi bersih pantai di Tamendao Beach.

Kegiatan itu diinisiasi untuk memberikan solusi ekonomi langsung bagi warga pesisir, yang mendapat dukungan penuh dari Gubernur dan Wali Kota Gorontalo guna memperkuat edukasi lingkungan secara mandiri.

"Kami ingin mengedukasi masyarakat untuk memilah mana sampah plastik dan sampah lainnya, di mana nantinya sampah tersebut dapat ditukar dengan bahan makanan melalui program yang kami canangkan," kata Elen.

Kegiatan bertajuk 'Beach Clean-up' ini mendapat atensi khusus dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota.

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wali Kota Adhan Dambea, menjalin sinergi mendukung aksi tukar sampah 'Motoyungo' yang digelar di daerah itu.

Gubernur diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi, sementara Wali Kota Gorontalo diwakili oleh Lurah Kampung Bugis.

Dukungan ini menjadi sinyal kuat sinergi pemerintah terhadap isu lingkungan.

"Kami sangat bersyukur atas dukungan gubernur dan  wali kota yang telah mengutus perwakilan dinas terkait. Kehadiran pemerintah daerah sangat penting bagi kami yang baru saja memulai langkah ini," kata Elen.

Aksi lingkungan ini melibatkan 66 relawan, termasuk mahasiswa dan satu relawan asing asal Perancis, yang membersihkan 12 zonasi sepanjang 400 meter dari lokasi Tamendao Beach.

Pembersihan dilakukan secara menyeluruh baik di wilayah daratan maupun melalui aksi penyelaman (freedive) untuk mengangkat sampah plastik dari dasar laut.

"Ada total 66 relawan yang turun membersihkan lokasi, termasuk bantuan dari rekan-rekan kampus dan penyelam. Fokus kami bukan sekadar membersihkan pantai, tetapi lebih kepada edukasi untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah," katanya.

Elen yang juga seorang wirausahawan pariwisata ini mengaku tergerak mendirikan Motoyungo karena sering menerima keluhan dari wisatawan mancanegara terkait kondisi sampah.

Hal ini mendasari misinya untuk membentuk NGO formal, yang bekerja sama dengan berbagai pihak demi memajukan sektor pariwisata daerah.

"Tamu-tamu saya sering mengeluh bahwa alam bawah laut kita bagus, tapi masalah utamanya adalah sampah. Itulah yang memanggil saya untuk membentuk wadah resmi agar kegiatan ini memiliki legalitas yang jelas," kata Elen.

Melalui program tukar sampah dengan bahan makanan yang direncanakan berjalan mulai Juni mendatang, Motoyungo berharap masyarakat tidak lagi memandang limbah sebagai masalah, melainkan sumber manfaat.

Edukasi memilah sampah menjadi kunci utama sebelum penukaran dilakukan.

"Misi utama kami adalah edukasi budaya buang sampah. Jika masyarakat paham bahwa sampah plastik yang mereka kumpulkan bisa bernilai manfaat untuk urusan perut atau bahan makanan, maka mereka tidak akan lagi membuangnya sembarangan ke alam," katanya.

Kegiatan ini turut dikawal oleh unsur Polairud, Basarnas, TNI AL, serta Dinas Kelautan dan Perikanan.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mewujudkan visi besar Motoyungo dalam menciptakan lingkungan yang bersih demi pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

"Kami berharap program Motoyungo ini didukung oleh semua pihak, termasuk dukungan berkelanjutan dari gubernur dan wali kota. Jika lingkungan bersih dan pariwisata maju, ekonomi kita pasti meningkat," imbuhnya.

Ketua Panitia sekaligus ketua Motoyungo Elen Said di Gorontalo dalam aksi tukar sampah dengan bahan makanan. ANTARA/HO-Agista Palaji


Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026