Jakarta (ANTARA) - ‎Kebutuhan data center di Indonesia melonjak drastis seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan cloud computing, mendorong industri beralih dari teknologi pendingin berbasis udara ke liquid cooling sebagai solusi infrastruktur masa depan.

‎‎"Semua data center itu sudah mengarah ke AI data center. Artinya hampir semua data center akan berubah infrastrukturnya dari yang tadinya air cooled sekarang jadi liquid cooled," kata Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia Ellya Cen dalam Media Masterclass bertema Liquid Cooling & Next-Gen Data Center Infrastructure di Jakarta, Rabu.

‎‎Pergeseran itu tak lepas dari lonjakan kebutuhan daya komputasi yang luar biasa. Kebutuhan daya per rak server terus meningkat drastis seiring hadirnya chip-chip AI generasi terbaru yang semakin padat dan panas.

‎‎"Yang tadinya 3 kilowatt jadi 120 kilowatt. Dan tahun ini kuartal ketiga akan keluar Rubin server, satu raknya itu 600 kilowatt," kata Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma.

‎‎Lonjakan panas itulah yang membuat pendingin udara konvensional tidak lagi memadai, 70 persen panas di data center bersumber dari server, sehingga mendinginkan seluruh ruangan menjadi cara yang tidak efisien.

 

‎‎Liquid cooling bekerja dengan mengalirkan campuran air dan glikol langsung ke chip server melalui sistem yang dikenal sebagai direct to chip. Dengan kapasitas hingga 2,3 megawatt per unit, teknologi ini jauh melampaui pendingin udara konvensional yang paling besar hanya mampu menangani 500 kilowatt.

‎‎"Liquid cooling ini menjadi sesuatu yang sangat penting, karena untuk load per rak itu sudah luar biasa meningkat dibandingkan zaman dahulu yang mungkin cuma 13 kilowatt, sekarang sudah lebih dari 130 bahkan nanti mau lebih lagi," ujar Ellya.

‎‎Pertumbuhan industri data center Indonesia sendiri mencerminkan besarnya kebutuhan tersebut. IDPRO yang berdiri pada 2016 hanya mengelola 32 megawatt dari 5 anggota, kini telah berkembang menjadi 21 anggota dengan kapasitas operasional sekitar 520 megawatt.

‎‎Secara nasional, total kapasitas terpasang Indonesia sudah melampaui 600 megawatt dan diproyeksikan mencapai 1,6 gigawatt pada akhir 2026. Potensi ini didukung oleh proyeksi internet economy Indonesia yang diperkirakan mencapai 350 miliar dolar pada 2030, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.

‎‎Derasnya investasi global turut mendorong ekspansi ini. Posisi geopolitik Indonesia yang stabil membuat banyak investor mengalihkan perhatian ke Indonesia, termasuk sejumlah pemain besar yang menaikkan komitmen investasinya secara signifikan. IDPRO sendiri aktif terlibat dalam pembentukan white paper AI dan green data center sebagai upaya menyiapkan standar industri menghadapi pesatnya pembangunan data center berbasis AI ke depan.

‎‎Di tengah pesatnya pertumbuhan itu, Schneider Electric menegaskan kesiapannya dengan mengakuisisi Motivair, merek liquid cooling asal Amerika Serikat yang mensuplai pendingin untuk 6 dari 10 superkomputer tercepat di dunia.

‎‎Perusahaan mengklaim 95 persen kebutuhan hyperscale data center dapat disuplai penuh, mulai dari sistem kelistrikan, mekanikal, perangkat lunak, hingga liquid cooling, termasuk ketersediaan engineer lokal yang telah tersertifikasi.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Liquid cooling jadi solusi utama data center Indonesia di era AI ‎

Pewarta: Ida Nurcahyani/Niswah Qintara Rahmani
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026