"Harus banyak pilihan bagi pembeli, jangan terpaku pada motif yang sudah ada sebelumnya. Semakin banyak pilihan, semakin bagus," katanya di Gorontalo, Kamis.
Menurutnya, Gorontalo sangat beruntung memiliki pakaian khas karawo, karena sulaman tersebut adalah salah satu kearifan lokal yang sudah mendunia.
"Walaupun baru dipasarkan di negara Amerika, setidaknya sudah masuk dalam pasar internasional," tukasnya.
Ia berharap semua pihak bersinergi, untuk mendorong karawo jauh lebih dikenal di kancah dunia pada masa masa mendatang.
"Contohnya pada 2 oktober itu telah ditetapkan sebagai hari batik nasional, semoga saja nanti karawo juga bisa dijadikan sebagai hari karawo nasional," tambahnya.
Sebelumnya, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo menggelar lomba desain sulaman karawo yang berlangsung di Citimall Gorontalo, Selasa.
Idah optimistis hal itu akan merangsang krativitas pengrajin karawo, sehingga berinovasi dalam menghasilkan produk.
"Para pengrajin harus tunjukkan kemampuan dalam mendesain, mengiris sampai menjahit dalam proses membuat karawo. Tunjukkan bahwa kita bisa terus membuat, terus menciptakan model-model karawo yang jauh lebih bagus dan modern lagi," tandasnya.
Lomba tersebut diikuti 33 peserta lomba menyulam karawo, yang merupakan perwakilan dari setiap UMKM di kota dan Kabupaten di Provinsi Gorontalo.
Lomba ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Festival Nasional Pesona Karawo pada 20 Oktober 2018.
Pewarta: Debby H. ManoEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026