Sirah, salah seorang petani cabai rawit di Desa Milango, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, mengaku tidak bisa menikmati panen cabai akibat harga yang sangat rendah.
Ia mengaku, tergiur menanam cabai karena harganya yang lama bertahan di kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kilo gram.
"Sayangnya, saat musim panen ini bertepatan dengan harga cabai yang anjlok," ungkapnya.
Sebanyak empat ribu pohon cabai miliknya telah memasuki masa panen, namun ia mengaku kesulitan mendistribusikannya sebab harga jual di tingkat petani sangat rendah.
Belum lagi harus bersaing dengan cabai rawit yang masuk dari daerah lain, seperti Sulawesi Utara dan Surabaya.
Sirah berharap, pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap nasib petani cabai di daerah ini agar tidak merugi yang akan memicu hilangnya gairah tanam.
Kondisi yang sama dirasakan Arfan, salah seorang penjual cabai di pasar tradisional Moluo, Kecamatan Kwandang yang mengaku harus bersaing ketat dengan penjual lainnya.
"Rendahnya harga cabai di pasar, paling tinggi hanya Rp10.000 per kilo gram membuat pembeli berlaku selektif," ujarnya.
Rata-rata pembeli mencari cabai rawit yang masih dalam kondisi segar. "Kalau sudah terlalu merah dan layu sulit laku akibat harga yang sangat murah," kata Arfan.
Biasanya ia membeli cabai paling sedikit 30 kilo gram setiap pasar besar berlangsung pada hari Senin dan Kamis, namun harga yang anjlok membuat Arfan tidak berani membeli dalam jumlah banyak.
"Saya sengaja mengurangi stok sekitar 10-15 kilo gram, agar tidak rugi," ungkapnya.
Pewarta: Susanti SakoEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.