Gorontalo (ANTARA) - Kelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Rangkul Asa Gorontalo mendukung penuh pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) penyandang disabilitas rungu yang digelar oleh Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo.
Ketua Komunitas Rangkul Asa Gorontalo Yusrilsyah Limbanadi di Gorontalo, Senin, mengatakan langkah tersebut tentu menjadi komitmen komunitas dalam mendukung layanan kebahasaan yang inklusif dan setara.
"Uji coba ini digelar secara serentak di seluruh Indonesia dan dalam kesempatan ini kami menjadi tim pendamping," ucap Yusrilsya.
Tujuan dari kegiatan itu, kata dia, menguji kesiapan sistem, perangkat, dan tingkat keakuratan soal-soal UKBI yang dirancang khusus bagi penyandang disabilitas rungu.
Kegiatan tersebut melibatkan siswa disabilitas rungu tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Gorontalo, dimana setiap sekolah didampingi dua orang guru.
Dalam dukungannya Komunitas Rangkul Asa mengirimkan dua orang Juru Bahasa Isyarat (JBI) yakni dirinya sendiri dan Nur Triska Awaliyah Lukum, serta satu orang pengurus lainnya Satria Nicky Hayden Harmoni Lasani yang bertugas memastikan kelancaran komunikasi.
Ketiga orang tersebut diketahui merupakan duta bahasa Provinsi Gorontalo yang dianggap memiliki kompetensi dalam memberikan layanan pendampingan peserta pada kegiatan tersebut.
Ia menilai pelaksanaan UKBI adaptif disabilitas rungu membawa inovasi penting, terutama pada seksi pertama dimana jika UKBI adaptif umum memiliki seksi mendengar, maka versi untuk disabilitas rungu diganti dengan seksi memirsa, dimana peserta diminta menonton video berbahasa Indonesia yang dilengkapi dengan sulih teks.
Hal tersebut untuk menyesuaikan format uji dengan kebutuhan dan cara belajar para peserta rungu.
Pada kegiatan itu tercatat nilai tertinggi yang dicapai oleh salah satu siswa yaitu 310, dengan predikat terbatas, sehingga hasil ini menjadi bagian dari evaluasi nasional untuk penyempurnaan aplikasi.
Ia mengatakan Badan Bahasa perlu menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap Bahasa Indonesia, sehingga meskipun disabilitas rungu belum pernah mendengarkan Bahasa Indonesia dengan telinga, mereka bisa mencintai Bahasa Indonesia dengan hati sebagai warga negara Indonesia yang setara.
"Kegiatan ini menandakan komitmen pemerintah, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam mewujudkan layanan kebahasaan yang setara dan inklusif bagi seluruh warga negara Indonesia," ucapnya.
