Gorontalo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil lolos pendanaan program Innovillage 2025, dalam inovasi dukungan mental bagi penyintas HIV/AIDS.
Wakil rektor bidang kemahasiswaan dan alumni Prof Dr Mohamad Amir Arham di Gorontalo, Kamis mengatakan ini merupakan prestasi membanggakan yang kembali lahir dari rahim UNG.
Sebuah kolaborasi apik antara mahasiswa Program Studi Psikologi (FIP) dan Program Studi Farmasi berhasil mengantarkan UNG lolos dalam pendanaan program prestisius Innovillage 2025.
"Saya bangga mahasiswa UNG berhasil meraih dukungan pendanaan ini," kata Amir.
Program ini merupakan ajang kompetisi inovasi pengabdian masyarakat tingkat nasional yang sangat ketat.
Dari total 995 proposal yang masuk dari berbagai perguruan tinggi se Indonesia, tim UNG berhasil masuk dalam jajaran 180 tim terbaik yang berhak menerima pendanaan untuk mewujudkan ide mulia mereka.
Tim dipimpin oleh Faizulhaq H Rahman (Psikologi), bersama anggotanya Muamar Zaqi Uno (Psikologi) dan Adelin Salsahbila Usman (Farmasi).
Mereka mengusung sebuah platform inovatif bernama 'Vida Digital'.
Di bawah bimbingan Apt Wiwit Zuriati Uno SFarm MSi, platform ini dirancang sebagai wadah edukasi sekaligus sistem pendukung mental bagi penyintas HIV/AIDS berbasis komunitas.
Kolaborasi ini menjadi sangat kuat karena memadukan aspek psikososial (Psikologi) dengan pemahaman medis mengenai obat dan penyakit (Farmasi).
Amir memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya Vida Digital bukan sekadar proyek akademik, melainkan sekolah kehidupan bagi mahasiswa.
"Ini adalah momentum berharga untuk memperoleh pengalaman yang tidak ditemukan di ruang kelas. Menjadi konselor sebaya bagi penyintas HIV/AIDS adalah tugas kemanusiaan yang mulia. Di sini, prinsip kerahasiaan, empati dan profesionalitas benar-benar diuji," katanya.
Dosen pendamping kegiatan Apt Wiwit Zuriati Uno SFarm MSi mengatakan program Vida Digital merupakan program pengabdian masyarakat yang akan dijalankan selama kurang lebih satu tahun.
Program ini mencakup edukasi HIV, pendampingan psikososial, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan layanan dukungan mental.
