Surabaya (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan pemerintah berupaya mengakselerasi peningkatan kompetensi dokter spesialis melalui program fellowship satu tahun guna memangkas waktu tunggu pendidikan medis yang dinilai terlalu lama.

“Kebijakan ini kami tempuh untuk mengejar ketertinggalan layanan kesehatan nasional dibanding negara tetangga sekaligus mempercepat ketersediaan tenaga ahli pada layanan berteknologi tinggi,” kata Budi saat meninjau Rumah Sakit Kemenkes Surabaya, Kamis.

Menurut dia, program tersebut dilakukan karena untuk menjadi ahli membutuhkan waktu puluhan tahun bagi seorang dokter mencapai kompetensi penuh, sehingga perlu terobosan tanpa mengabaikan mutu layanan.

Jika melihat dari pendidikan sebelumnya, kata dia, banyak dokter baru dapat menjadi ahli pemasangan ring jantung setelah menempuh waktu hingga sekitar 20 tahun.

Sehingga, lanjutnya, pemerintah menerapkan program fellowship satu tahun yang mampu mencetak sekitar 50 hingga 80 tenaga ahli.

Lebih lanjut, Budi menambahkan program fellowship tersebut dijalankan bekerja sama dengan kolegium untuk memastikan standar kompetensi tetap terjaga dan selaras dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional.

 

Selain percepatan pendidikan, ia juga menekankan prioritas pembekalan dokter muda dengan penguasaan teknologi kedokteran terkini agar kemampuan tenaga medis dalam negeri setara dengan standar internasional.

“Prioritas kita adalah bagaimana dokter-dokter muda ini tingkat karyanya sama. Mereka lebih cepat dan kalau bisa lebih tinggi kemampuannya karena terekspos teknologi baru,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Budi juga menyoroti penguatan sarana penunjang di rumah sakit, termasuk penyediaan alat diagnosis kanker seperti PET-SCAN yang saat ini telah tersedia di 16 kota di Indonesia.

"Dari sisi biaya, layanan kesehatan di dalam negeri jauh lebih kompetitif dibandingkan luar negeri, namun keterbatasan alat dan tenaga ahli masih menjadi kendala utama," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investasi Khusus (BAPPISUS) RI Aris Marsudiyanto menyatakan dukungan lintas sektoral terhadap kebijakan tersebut karena pembangunan rumah sakit bertaraf internasional harus diiringi kualitas sumber daya manusia.

 

“Ada alat, tidak ada orang, itu percuma. Maka pemerintah fokus mencetak SDM-nya, termasuk meningkatkan beasiswa LPDP untuk dokter-dokter berkualitas agar belajar ke luar negeri,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap dengan adanya upaya yang dilakukan oleh Kemenkes bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Sekarang saatnya kita harus menciptakan generasi emas, karena pada tahun 2030-2035 akan ada bonus demografi yang manusia produktif akan lebih banyak dibanding yang tidak, jadi ayo hidup sehat dan menjadi pintar," ujarnya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menkes: Pemerintah berupaya akselerasikan kompetensi dokter spesialis

Pewarta: Indra Setiawan/Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026