Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata mencoba ikut beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui dihadirkannya Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA) yang mempermudah wisatawan merencanakan perjalanan berwisata.
"Teknologi itu akan berkembang terus, dan yang ingin kami garisbawahi di sini adalah Kementerian Pariwisata merespons perkembangan teknologi itu dengan beradaptasi dan melakukan inovasi," kata Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Kemenpar Firnandi Gufron saat ditemui ANTARA di Jakarta, Jumat.
Firnandi mengatakan butuh waktu lebih dari enam bulan untuk mengembangkan kecerdasan buatan tersebut. Pengembangan chatbot MaiA ini memasukkan Indonesia tergabung dalam negara-negara anggota National Tourism Organization (NTO) yang telah melakukan inovasi digital di sektor pariwisatanya.
Selain Indonesia, negara lain yang disebut telah melakukan inovasi seperti Swiss, Korea, Jepang, Singapura, dan Thailand.
"Kami tidak bermaksud (melebih-lebihkan) bahwa kami yang terbaik di antara semuanya, tapi saya disclaimers bahwa ini adalah per hari ini, jadi ada beberapa poin kenapa (MaiA) kita menjadi yang terbaik (di antara keenam negara)," ucap dia.
Menurutnya ada sejumlah hal yang membuat MaiA lebih unggul, seperti kemampuan kecerdasan buatan/AI chat dan mempersonalisasikan rencana perjalanan.
MaiA, katanya, juga sudah dilengkapi dengan peta yang memudahkan wisatawan melacak jarak antardestinasi beserta dengan lokasinya. Rencana yang sudah disusun menggunakan bantuan MaiA dapat disimpan dan mudah dilihat dalam riwayat perjalanan.
Seluruh informasi terkait destinasi wisata ditampilkan dalam bentuk yang ringkas, mulus dan terintegrasi. Beberapa informasi yang dimuat yakni rekomendasi soal transportasi dan akomodasi selama di perjalanan.
"Kita punya visualisasi tempat dan yang terakhir tautan langsung ke peta, semua daftar kategori ini kita periksa, sementara Swiss, negara lain belum selengkap kita fiturnya," ujar Firnandi.
Terkait dengan pengembangan, Firnandi memastikan bahwa fitur-fitur dalam MaiA akan terus dibangun sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan wisatawan.
Apalagi wisatawan memiliki beberapa fase dalam menyusun agenda perjalanannya yakni mulai dari memimpikan (dreaming) hingga perencanaan (planning).
Ia juga menyampaikan bahwa pada masa kini mesin pencarian ketika berwisata sudah bergeser dari yang semula memanfaatkan Search Engine Marketing (pemasaran digital), kini menjadi pemasaran kecerdasan buatan (AI marketing). Indonesia pun ia anggap telah selaras dalam mengikuti tren tersebut walaupun MaiA masih dihadirkan berbasis situs (web based).
"Karena teknologi akan berkembang terus ya, jadi kita selalu tes dan mempelajarinya, kita akan kembangkan terus tujuannya supaya meningkatkan pengalaman wisatawan," katanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenpar beradaptasi dengan teknologi lewat kehadiran MaiA
