Gorontalo (ANTARA) - Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo menilai tingginya minat masyarakat terhadap makanan bercita rasa pedas membuat cabai rawit lebih diminati dibanding cabai keriting di sejumlah pasar tradisional.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo Ishak Rahman Salandra di Gorontalo, Jumat, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan harga di pasar, selisih harga cabai keriting dan cabai rawit sebenarnya tidak terlalu jauh.
Namun, kata dia, tingkat pembelian cabai rawit tetap lebih tinggi karena dianggap memiliki rasa yang lebih pedas dan sesuai dengan selera masyarakat Gorontalo.
“Kalau dilihat dari hasil pantauan di pasar-pasar, harga cabai keriting tidak jauh berbeda dengan cabai rawit. Tetapi masyarakat Gorontalo lebih memilih cabai rawit karena tingkat kepedasannya lebih tinggi,” ujar Ishak.
Ia menjelaskan, cabai keriting cenderung kurang diminati karena rasa pedasnya dinilai tidak sekuat cabai rawit.
Kondisi tersebut berbeda dengan daerah di Pulau Jawa yang masyarakatnya lebih banyak menggunakan cabai keriting untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Menurut dia, rendahnya minat pembeli terhadap cabai keriting juga berdampak pada pedagang, karena sebagian komoditas tidak habis terjual hingga akhirnya dibuang.
“Saya amati ketika pergi ke pasar, cukup banyak cabai keriting yang akhirnya dibuang pedagang karena tidak habis terjual,” katanya.
Salah seorang pemilik warung makan di Kota Gorontalo, Titin Yusuf, mengaku lebih sering membeli cabai rawit karena rasa pedasnya lebih kuat dan cocok digunakan untuk berbagai jenis masakan khas Gorontalo.
“Kalau masak untuk dagangan memang biasanya lebih pilih cabai rawit karena makanan pedas itu sangat di minati, kalau cabai keriting kadang dicampur kalau harga cabai rawit naik,” ujar dia.
Meski demikian, cabai keriting tetap menjadi pilihan alternatif masyarakat saat harga cabai rawit mengalami kenaikan signifikan guna menekan pengeluaran di tengah fluktuasi harga bahan pangan.
Pewarta: Faradila AlimEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026