Gorontalo, (ANTARAGORONTALO) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, akui kesulitan untuk mengajak petani beralih ke pengelolaan tanaman padi secara organik.
Menurut Sekretaris Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Bone Bolango Ahmad Soleman belum lama ini mengatakan, pertanian organik membutuhkan pengelolaan lahan terfokus dan jauh dari pertanian yang menggunakan pupuk pestisida, agar tidak terjangkit.
"Masalahnya seperti ini. Jika ada salah satu petani yang mengelolah dengan cara organik, namun lahannya berdampingan dengan petani yang pakai pupuk pestisida, dengan sendirinya lahan organik akan terkontaminasi melalui air dan penyemprotan," katanya.
Sehingga untuk mengelola padi organik harus butuh lahan di luar penggunaan pestisida itu.
Sehingga BP4K hanya fokus pada daerah tertentu untuk kembangkan pertanian organik. Misalnya di Kecamatan Pinogu yang masyarakatnya masih mengelolah dengan cara-cara organik.
Kendala lain yang dihadapi BP4K Bone Bolango adalah belum adanya label produk pertanian organik yang bisa membedakan dengan pertanian yang menggunakan pestisida.
"Sehingga banyak masyarakat yang belum percaya dengan produk pertanian organik, dan menyamakan harga beli dengan produk pertanian pestisida. Padahal nilai jualnya tinggi di pasaran," tutur Ahmad.
Ke depan untuk soal label akan diserahkan pada Dinas yang menanganinya. Karena pada organisasi perangkat daerah, akan ada Dinas Pangan di Kabupaten Bone Bolango yang bertugas mengurusi pangan dan mulai berfungsi tahun 2017 nanti.
Ahmad menambahkan, bahkan saat ini di Kabupaten Bone Bolango banyak yang dijual produk pertanian yang menggunaan pupuk pestisida secara berlebihan.
"Misalnya sebelum mereka jual ke masyarakat, masih disemprot dengan bahan kimia agar terlihat segar. Padahal itu sangat membahayakan kesehatan konsumen," katanya.
