London (ANTARA) - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Inggris tidak akan mengalah dalam prinsip dan nilai-nilainya terkait masa depan Greenland meski menghadapi ancaman tarif dari Amerika Serikat.
“Saya tidak akan mengalah, Inggris tidak akan mengalah dalam prinsip dan nilai kami mengenai masa depan Greenland di bawah ancaman tarif,” kata Starmer dalam sesi tanya jawab mingguan Perdana Menteri di House of Commons, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan Washington akan mengenakan tarif 10 persen terhadap barang dari delapan negara Eropa, termasuk Inggris, mulai 1 Februari, yang akan naik menjadi 25 persen pada Juni hingga tercapai kesepakatan “pembelian penuh dan total Greenland.”
Menanggapi kritik Trump pada Selasa terhadap kesepakatan Inggris soal Kepulauan Chagos, Starmer mengatakan pernyataan tersebut dibuat “secara khusus untuk memberi tekanan kepada saya dan Inggris” terkait sikap London mengenai Greenland.
Ia menambahkan bahwa pernyataan Trump yang menyebut kesepakatan Chagos sebagai “tindakan kebodohan besar” berbeda dengan “kata-kata sambutan dan dukungan” yang sebelumnya disampaikan Presiden AS itu.
Starmer juga menekan pemimpin Partai Konservatif sekaligus oposisi utama, Kemi Badenoch, atas komentarnya terkait kesepakatan Chagos, dengan menuding Badenoch “mendukung argumen yang dimaksudkan untuk melemahkan posisi Inggris soal Greenland.”
Pada Mei lalu, Inggris menandatangani kesepakatan untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius sebagai imbalan atas pengamanan pangkalan militer strategis Inggris-AS.
Melalui kesepakatan tersebut, negara Afrika Timur itu memperoleh kendali atas Kepulauan Chagos, sementara AS dan Inggris tetap dapat mengoperasikan pangkalan militer strategis Diego Garcia selama 99 tahun ke depan.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Inggris tak goyah soal Greenland meski hadapi ancaman tarif AS
