Gorontalo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) meneliti perbedaan prefiks (awal kata) dan reduplikasi (pengulangan kata) dalam Bahasa Gorontalo dan Bahasa Atinggola melalui kajian linguistik komparatif.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Aas Ome dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya UNG sebagai bagian dari penyusunan skripsi.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta membandingkan bentuk dan fungsi prefiks serta reduplikasi pada kedua bahasa daerah tersebut.

Dalam penelitiannya, Aas menggunakan pendekatan linguistik komparatif untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan struktur morfologi antara Bahasa Gorontalo dan Bahasa Atinggola.

Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap penutur asli di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, serta Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara.

Sebanyak 200 kosakata dasar Swadesh digunakan sebagai sumber data utama dalam menganalisis bentuk prefiks dan reduplikasi pada kedua bahasa tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Gorontalo memiliki 38 bentuk prefiks, contohnya mo(modetu), popo(popotolohe), lo(lohungo) dan 20 bentuk reduplikasi, contohnya piyo-piyohu, hulo-hulo'o, dan hundu-hundua  sedangkan Bahasa Atinggola memiliki 62 bentuk prefiks, contohnya mo(mopeabu' o), no (noyato) dan 25 bentuk reduplikasi, contohnya  upu-upuso, rlao-rlao, dan humpir-humpirlo.

Selain memiliki kesamaan dalam penggunaan prefiks sebagai pembentuk verba, kedua bahasa tersebut juga menunjukkan perbedaan dalam produktivitas dan fungsi tata bahasa. Reduplikasi dalam kedua bahasa memiliki fungsi yang beragam, seperti menyatakan intensitas, pengulangan, dan keanekaragaman makna. 

"Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan kajian linguistik komparatif serta mendukung pelestarian bahasa daerah di Indonesia," katanya.



Pewarta: Susanti Sako/Lifka Ismail
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026