Gorontalo, (ANTARA GORONTALO) - Banyak yang tidak mengetahui jika ustadz jebolan pondok pesantren Al-Huda Kota Gorontalo ini, juga menjabat sebagai lurah di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo.
Ustadz Iqbal Pakaya, putra kelahiran 1 Februari 1975, melakoni kegiatan dakwahnya sejak tahun 1998 saat ia aktif mengikuti program pelatihan ceramah di pondok pesantren yang diakuinya memberikan banyak ilmu agama dan mengenal tentang kehidupan.
Ustad yang sering menyelipkan guyonan untuk menghidupkan ceramah yang ia bawakan, mengaku, banyak pelajaran hidup yang tidak hanya perlu dipelajari untuk modal di kehidupan selanjutnya, namun ilmu itu wajib disalurkan kepada umat maupun masyarakat luas agar hidup menjadi bermanfaat.
Meski setiap hari harus mengisi kegiatan ceramah agama sekurang-kurangnya di dua atau tiga lokasi di Provinsi Gorontalo, atau 60-70 kali dalam sebulan, namun ustadz Iqbal mengaku sangat menikmatinya, bahkan bisa membagi waktu sebagai Lurah Botu.
"Saya harus cerdas memposisikan diri sebagai pemerintah kelurahan dan pendakwah, makanya
ketika harus melayani masyarakat dilakukan dengan tulus dan serius, meski tak pernah mematikan telefon seluler agar bisa melayani rakyat tanpa batas," ujarnya.
Kesungguhan itu membuat ustadz yang terkenal kocak dan menguasai nama-nama pemain bintang sepak bola kelas dunia ini, mengantarkannya sebagai Lurah terbaik se-Kota Gorontalo yang berhasil menjalankan pemerintahan di garda terdepan itu, dengan bentuk pelayanan prima, berkualitas, dinamis dan tertib administrasi.
"Jika ikhlas maka akan banyak dampak positif yang dengan mudah bisa diraih," Ujarnya.
Jelang bulan ramadhan, wakil ketua komite fatwa dan dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Gorontalo ini, mengaku banyak mengisi ceramah agama pada kegiatan halal bi halal, baik yang digelar pemerintah, pihak swasta maupun sekolah dan kelompok-kelompok pengajian.
Menurutnya, halal bi halal bukan sekedar tradisi yang wajib dijalankan sebagai bentuk penyucian diri dan ukhuwah dalam menjalankan ibadah wajib di bulan ramadhan, namun menjadi ajakan bagi umat untuk mengutamakan hubungan persaudaraan dengan sesama manusia.
"Jika dulu halal bi halal banyak digelar oleh organisasi Islam, bersyukur saat ini sudah meluas dilakukan berbagai lapisan masyarakat," ungkap ustadz yang mengaku secara personal dan sebagai pengurus MUI sangat setuju jika pemerintah menerapkan pembatasan jam buka tutup tempat-tempat hiburan malam maupun penutupan tempat-tempat berbau maksiat selama bulan ramadhan.
Tujuannya bukan sekedar menghormati ibadah yang sedang dijalankan umat Islam, namun sebagai bentuk dakwah yang bisa dilakoni pemerintah agar meninggalkan kegiatan berbau maksiat yang sebaiknya tidak menjamur di daerah.
"Adat bersendikan Syara` dan Syara` bersendikan Kitabullah" ini, artinya masyarakat Gorontalo yang sangat menjunjung nilai-nilai religius dan kebersamaan yang bernilai ibadah tinggi. Ustadz Iqbal berharap, momentum ibadah puasa yang bertepatan dengan pelaksanaan pesta demokrasi nasional tahun ini, semakin menjadikan umat sebagai insan berkualitas, beriman dan memiliki ketakwaan yang tinggi kepada pencipta maupun mengutamakan silaturahmi sesama umat manusia.
