Istanbul (ANTARA) - Amerika Serikat telah memutuskan untuk menarik pasukan yang tersisa di Suriah dalam dua bulan ke depan, dengan jumlah sekitar 1.000 personel, setelah penarikan bertahap selama beberapa bulan terakhir, demikian laporan Wall Street Journal, Rabu.
Mengutip seorang sumber, laporan tersebut menyebutkan Washington menilai kehadiran militer Amerika Serikat di Suriah tidak lagi dibutuhkan seiring perubahan kondisi keamanan di negara tersebut.
Penilaian itu didasarkan pada hampir sepenuhnya dibubarkannya Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan YPG serta integrasi mereka ke dalam struktur negara Suriah, sehingga misi awal AS memerangi ISIS melalui mitra lokal dianggap telah selesai.
Militer AS, menurut laporan itu, juga telah menyelesaikan penarikan pasukan dari garnisun Al-Tanf, pos terdepan utama di dekat perbatasan Suriah dengan Yordania dan Irak, serta dari pangkalan Al-Shaddadi di Suriah timur laut awal bulan ini.
Laporan tersebut menegaskan bahwa penarikan pasukan tidak terkait dengan pengerahan angkatan laut dan udara AS di Timur Tengah saat ini, yang ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan terhadap Iran jika perundingan nuklir gagal.
Iran sebelumnya telah memperingatkan akan menargetkan pasukan Amerika di kawasan tersebut sebagai respons atas setiap serangan udara AS.
Mengutip seorang pejabat senior AS, laporan itu mengatakan penarikan pasukan dilakukan seiring pemerintah Suriah mengambil alih upaya kontra-terorisme, seraya menambahkan bahwa pasukan AS masih dapat menanggapi ancaman yang ditimbulkan ISIS.
Namun sejumlah pejabat AS dan asing memperingatkan bahwa pengurangan kehadiran Amerika berisiko melemahkan gencatan senjata dan memungkinkan ISIS untuk bangkit kembali. Sementara itu, pihak lain menilai pasukan AS yang tersisa lebih berfungsi sebagai sinyal politik daripada kekuatan kontra-terorisme yang substansial.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AS akan tarik seluruh pasukan dari Suriah
