Gorontalo, (ANTARA GORONTALO) - Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, akan memperluas areal tanam padi organik yang berhasil dikembangkan di lahan konvensional.
"Bukan lahannya yang diperluas, namun areal tanam yang sebelumnya bergantung pada pola tanam nonorganik akan diubah dengan menerapkan pola pertanian organik," ujar Wakil Bupati Gorontalo Utara, Roni Imran, Rabu di Gorontalo.
Minimal kata ia, tiga kali siklus tanam sudah bisa menetralisir lahan yang sebelumnya terbiasa dengan penggunaan bahan kimia, diganti dengan pola pertanian organik yang alamiah.
Hal itu ditegaskannya pada pertemuan dengan pihak pengembang pupuk organik Moralis, Badan Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) serta Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Gorontalo Utara, terkait upaya pemerintah daerah yang akan merancang program interkoneksitas untuk memadukan program pertanian dan perindustrian berbasis teknologi maju untuk mengembangkan produk pertanian organik.
"Pemerintah daerah sangat terobsesi mengembangkan produk pertanian organik yang produksinya signifikan bahkan pada musim kemarau," ujar Roni.
Musim kemarau yang melanda daerah ini pada bulan Juni hingga akhir Oktober, tidak berpengaruh pada lahan persawahan organik.
Pasalnya, di seluruh Provinsi Gorontalo, hanya Gorontalo Utara yang mampu melakukan panen raya saat musim kemarau, akibat penerapan rekayasa teknologi pertanian organik.
Petani yang menggunakan bibit padi organik dan pupuk organik, mampu memanen gabah kering mencapai 7,5-7,7 ton per hektare.
Bahkan laporan dari pihak BP4K setempat, panen terjelek di wilayah Kecamatan Kwandang di areal tanam organik masih mencapai 1,7-3,5 ton per hektare gabah kering.
Berbeda dengan areal persawahan non organik yang rata-rata mengalami gagal panen atau puso pada musim tanam gaduh, akibat tanah yang banyak mengandung produk kimia terbelah-belah saat musim kemarau.
Keberhasilan produksi pertanian organik tersebut harus dipertahankan, apalagi pada musim tanam awal tahun 2015 lalu kata Roni, produksi gabah kering organik di daerah ini mampu mencapai 8-10,3 ton per hektare.
"Sehingga pemerintah daerah sangat mendukung penerapan pertanian organik, dibanding harus menambah luasan areal tanam yang sudah tidak mungkin dilakukan di daerah ini," ujar Wakil Bupati.
