Hasan Ngilu, Kepala Dusun 1, Desa Tabongo Timur yang juga seorang petani jagung, Senin, mengaku sudah dua kali musim panen hama belalang menyerang tanaman jagung warga sekitar.
"Dua hektar tanaman jagung milik saya rusak akibat hama belalang, didusun kami, sekitar 35 hektar yang telah rusak," Kata Hasan seraya menambahkan kerugian mencapai Rp3 hingga Rp5juta setiap hektar.
Hasan menjelaskan, rata-rata petani jagung didaerahnya tidak siap mengadapi serangan hama, karena sebelumnya tidak ada.
"Kami sudah melakukan penyemprotan dengan pestisida, namun sudah terlambat dan hama belalangnya semakin bertambah," ungkap Hasan.
Menurutnya, jagung miliknya disemprot pestisida saat sudah berumur satu bulan lebih, dan itu sudah terlambat, selain itu biaya penyemprotan cukup mahal.
"Seharusnya sebelum jagung berumur satu bulan, sudah dilakukan penyemprotan agar belalang tidak memakan tanaman jagungnya," tutur Hasan.
Dengan adanya serangan hama tersebut, Ia mengaku hanya dapat panen setengah hasil dari biasanya.
"Biaya pengeluaran untuk menanam dua hektar jagung Rp6juta, yang kembali hanya Rp3juta akibat serangan hama ini,"tutupnya.
Sementara itu, petani lainnya, Ismail mengatakan, dua hektar tanaman jagung miliknya juga rusak karena hama belalang.
"Biaya penyemprotan hama cukup mahal, untuk dua hektar lahan saya saja membutuhkan hingga Rp1juta untuk empat kali penyemprotan, jadi saya tidak melakukan penyemprotan dan akhirnya tanaman jagung saya rusak karena hama belalang," sesalnya.
Pewarta: Adiwinata Solihin: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026