Gorontalo,  (ANTARA GORONTALO) - Kepala BPS Provinsi Gorontalo Eko Marsoro, Senin, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di Provinsi Gorontalo pada September 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) naik 0,03 persen dibandingkan Agustus 2016, yaitu dari 105,57 menjadi 105,60.

Pada periode Januari 2015-September 2016, NTP Provinsi Gorontalo tertinggi terjadi pada bulan Mei 2016 sebesar 105,69 dan terendah terjadi pada bulan April 2015 sebesar 100,26.

"Kenaikan NTP September 2016, disebabkan naiknya dua subsektor yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,92 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,78 persen," katanya di Gorontalo.

Sedangkan tiga subsektor lainnya mengalami penurunan indeks yaitu subsektor tanaman pangan sebesar -0,33 persen, subsektor tanaman hortikultura sebesar -1,38 persen, dan subsektor perikanan sebesar -0,11 persen.

Dari 10 provinsi di Kawasan Timur Indonesia, tujuh provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100.

NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Sulawesi Barat dengan nilai sebesar 108,60 yang diikuti Gorontalo sebesar 105,60, Sulawesi Selatan sebesar 104,86, Maluku Utara sebesar 103,68, Maluku sebesar 101,52, Papua Barat sebesar 100,46, Sulawesi Tenggara sebesar 100,15.

Nilai Tukar Petani terendah terjadi pada Sulawesi Utara sebesar 95,82, Papua sebesar 96,17, dan Sulawesi Tengah sebesar 99,24.

NTP nasional sebesar 102,02 mengalami kenaikan sebesar 0,45 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 101,56 merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

Pewarta: Debby Hariyanti Mano
: Hence Paat

COPYRIGHT © ANTARA 2026