Kigali, Rwanda (ANTARA) - Aliansi Fleuve Congo, kelompok pemberontak yang mencakup M23, pada Sabtu (22/3) mengumumkan penarikan pasukan dari kota Walikale dan wilayah sekitarnya di timur Republik Demokratik Kongo, hanya beberapa hari setelah menguasai daerah yang kaya akan mineral tersebut.
Langkah itu sejalan dengan gencatan senjata sepihak yang diumumkan pada 22 Februari dan bertujuan menciptakan kondisi yang mendukung proses dialog untuk menyelesaikan konflik di Kongo, menurut pernyataan juru bicara kelompok itu, Lawrence Kanyuka, di platform X.
"Untuk mendukung inisiatif perdamaian yang bertujuan menciptakan kondisi kondusif bagi dialog politik guna mengatasi akar penyebab konflik di timur Republik Demokratik Kongo, Aliansi Fleuve Congo telah memutuskan untuk memindahkan pasukan dari kota Walikale dan wilayah sekitarnya," demikian isi pernyataan tersebut.
Kelompok bersenjata itu juga menyerukan kepada "penduduk Walikale dan para pemimpin komunitas mereka untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan keamanan dan perlindungan warga sipil serta harta benda mereka selama masa transisi ini."
Namun, menurut laporan warga, unsur-unsur pemberontak masih terlihat di kota tersebut hingga Sabtu sore, meskipun ada pengumuman penarikan.
Media lokal melaporkan bahwa serangan udara oleh pasukan Kongo terdengar di sekitar landasan udara Kigoma pada Sabtu. Bentrokan juga dilaporkan terjadi pada Jumat antara pemberontak dan milisi pro-pemerintah.
Para pemberontak merebut Walikale pada Rabu malam setelah pertempuran sengit selama beberapa hari dengan pasukan pemerintah dan milisi pro-pemerintah yang dikenal sebagai Wazalendo di berbagai wilayah kota.
Walikale, yang terletak sekitar 125 kilometer barat laut ibu kota provinsi Goma, memiliki cadangan timah yang besar. Kota ini jatuh ke tangan pemberontak setelah mereka merebut Goma pada Januari lalu.
Kelompok pemberontak itu telah meningkatkan serangannya di Kongo timur sejak Desember, merebut ibu kota provinsi Goma dan Bukavu.
Kekerasan yang terus berlangsung di Provinsi Kivu Utara, terutama di wilayah Masisi dan Walikale, serta situasi keamanan yang sangat tidak stabil di Bukavu dan daerah sekitarnya di Provinsi Kivu Selatan, telah memaksa ratusan ribu warga sipil mengungsi.
Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, jumlah warga Kongo yang melarikan diri ke negara-negara tetangga telah melonjak hingga lebih dari 100.000 orang, menurut laporan PBB pada Jumat.
Presiden Kenya, William Ruto, pada Jumat mengumumkan rencana pertemuan virtual para pemimpin dari dua blok regional, Komunitas Afrika Timur (EAC) dan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), yang dijadwalkan pekan depan untuk memperkuat koordinasi dalam upaya menyelesaikan konflik di Kongo timur.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemberontak M23 umumkan tarik pasukan dari kota Walikale, Kongo timur