Gorontalo (ANTARA) - Pesta seni panen padi Maaledungga telah resmi dibuka pada Selasa (29/04) di sebuah gilingan padi dan gudang beras milik warga di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango.
Ketua Panitia, Awaluddin Ahmad di Gorontalo menjelaskan pesta panen Maaledungga ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2018, 2019, 2022 hingga 2025 untuk selalu menyuarakan banyak isu dan masalah terutama diantaranya tentang pertanian, kesejahteraan petani dan nelayan, hak asasi manusia, lingkungan, dan budaya
“Maaledungga bisa diartikan sudah sampai atau telah tiba. Tetapi kata ini paling banyak digunakan sebagai istilah ketika mulai musim panen padi di Gorontalo," katanya.
Pada pesta panen padi tahun ini, panitia akan menggelar tujuh jenis kegiatan yang dilaksanakan selama 13 hari mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan musik, puisi, teater, Pasar Ambua, pameran tentang interaktif di dapur, permainan tradisional anak-anak, orasi kebudayaan, diskusi dan workshop pangan.
Gelaran Maaledungga tahun ini akan berlangsung mulai dari tanggal 29 April hingga 11 Mei.
Karya-karya dari berbagai perupa lintas Sulawesi, bahkan dari Lombok, Bali, Yogyakarta, Semarang, dan Padang, dipamerkan di tiga titik utama yakni Gilingan Ka Jami, Gilingan Ka Miu, dan ruang kolektif Hartdis yang juga menjadi lokasi pameran interaktif pangan.
Kepala Desa Huntu Selatan, Yasin Djabil, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan pengunjung.
" Kami berharap bahwa kegiatan yang dilaksanakan akan menjadi agenda rutin dari Hartdisk dan insya Allah bisa dilaksanakan setiap tahun. Kami dari pemerintah desa siap mendukung untuk kegiatan selanjutnya," ujarnya.
Ia berharap Maaledungga semakin mempopulerkan Desa Huntu Selatan, tidak hanya di Gorontalo, tetapi juga di seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kurator pameran seni rupa, Bobby Adrian, yang ikut membuka Maaledungga berbagi pengalamannya terlibat dalam dunia seni rupa sejak tahun 2013.
"Datang ke Maaledungga ini sebuah pengalaman yang jelas tak tergantikan buat saya. Kesenian itu memang seharusnya tidak jauh dari masyarakat di sekitarnya seperti halnya Maaledungga ini. Sayangnya memang dalam sejarah kesenian, seni rupa terutama, banyak sekali perkembangan-perkembangan yang membuat karya seni itu menjadi berjarak dengan warga, dengan masyarakatnya" ungkapnya.
Ia berharap kegiatan ini terus menjadi wadah bagi para seniman untuk menampilkan karya dan menyuarakan berbagai isu penting yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekitar, sekaligus menjadi ruang interaksi yang mempererat hubungan antara seniman dan warga.
