Bone Bolango (ANTARA) - Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Lomaya, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan telusur budaya penamaan atau toponimi dan budaya lainnya dari Pegunungan Tilongkabila.
Ketua Umum Mapala Lomaya Rossalina Syufi, Sabtu mengatakan telusur budaya itu adalah salah satu program kerja organisasi yang dilakukan di Desa Lomongo, Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
"Kami dari Lomaya mengumpulkan data-data untuk pegunungan yang ada di Gorontalo salah satunya Pegunungan Tilongkabila," ucap Rossalina.
Ia menjelaskan pada telusur budaya itu terdapat tiga tokoh masyarakat sebagai narasumber yaitu Koni Gani, Ramsi Datun Sola, dan Kule Tenge.
"Telusur budaya ini menggali pantangan atau larangan yang ada di Pegunungan Tilongkabila ini," kata dia.
Koni Gani mengatakan larangan yang ada di Pegunungan Tilongkabila yaitu dilarang berisik dan dilarang memaki-maki di atas gunung.
"Makian setan atau panggilan setan hari dihindari ketika berada di atas Pegunungan Tilongkabila," ujar dia.
Hal tersebut diungkap juga oleh narasumber lainnya, Kule, dimana ketika berada di Pegunungan Tilongkabila harus menghindari berteriak, mengeluh dan memaki di atas gunung.
"Jika berteriak atau pun mengeluh akan terjadi suatu kejadian yang tak terduga di atas pegunungan," kata dia.