Gorontalo (ANTARA) - Wakil Gubernur (Wagub) Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menyatakan keseriusannya dalam menangani tengkes di daerah itu mengingat angka kasus stunting fluktuatif tersebut.
"Penanganan tengkes (stunting) harus menjadi sorotan utama kita semua," kata Wagub Idah di Gorontalo, Selasa, membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Gorontalo
Ia mengatakan naik-turunnya prevalensi stunting harus direspons dengan kerja serius, terukur, dan kolaboratif dari seluruh pihak mulai dari tingkat pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga tingkat desa dan kelurahan.
"Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Penanganannya memerlukan intervensi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung serta intervensi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung," kata Idah.
Kondisi prevalensi stunting di Gorontalo bergerak tidak stabil. Berdasarkan SSGI tahun 2021, angka stunting berada pada 29 persen, kemudian menurun menjadi 23,8 persen pada 2022. Namun angka tersebut naik kembali menjadi 26,9 persen pada 2023 sesuai Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan kembali turun menjadi 23,8 persen pada 2024.
Angka ini masih jauh dari target nasional 14 persen sebagaimana tercantum dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021.
"Melihat tren ini, seluruh perangkat daerah dan masyarakat baik provinsi maupun kabupaten/kota harus bekerja lebih keras. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Gorontalo harus menjadi garda terdepan dalam mengkaji, merumuskan, dan menetapkan arah kebijakan penurunan stunting," katanya.
Idah juga mengingatkan kelompok sasaran seperti remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia 0 hingga 59 bulan, harus menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan stunting.
Hal ini sejalan dengan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), kata dia, yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan memutus mata rantai stunting.
Ia mengatakan Program MBG harus benar-benar dimanfaatkan untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas dan berkualitas.
Pihaknya berpesan kepada remaja putri agar rutin mengonsumsi vitamin dan menjaga asupan gizi untuk mencegah anemia, yang dapat berkontribusi pada kelahiran anak stunting.
Rakortek tersebut diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari lintas program dan lintas sektor TPPS, baik dari Dinas Kesehatan, Bapppeda, maupun BKKBN. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah dan diskusi.
