Ankara (ANTARA) - Kelompok pejuang Palestina, Hamas Palestina pada Senin menyambut baik hasil pertemuan Komite Menteri Arab-Islam dan menyerukan tekanan lebih besar terhadap Israel untuk mengakhiri perang genosida di Gaza serta mematuhi perjanjian gencatan senjata.
Setelah pertemuan di Kairo dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas pada Minggu (23/3), Komite Menteri Arab-Islam menyatakan "keprihatinan mendalam" atas runtuhnya gencatan senjata di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya, Hamas menyerukan agar sikap yang disampaikan dalam pertemuan tersebut diterjemahkan "ke dalam langkah-langkah nyata dan tekanan politik yang sesungguhnya terhadap pendudukan Zionis Israel untuk menghentikan agresi Israel."
Hamas juga mendesak upaya untuk memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan dan kebutuhan dasar ke Gaza, karena Israel terus menghalangi masuknya bantuan dan barang-barang penting, mendorong warga Palestina di Gaza ke ambang kelaparan.
"Kami menegaskan dukungan terhadap setiap upaya serius dari dunia Arab dan Islam untuk rekonstruksi Gaza, serta mengapresiasi upaya bersama dalam menyusun rencana pemulihan dan rekonstruksi yang jelas," kata kelompok perlawanan Palestina itu.
Pertemuan Komite Menteri pada Minggu dihadiri oleh para menteri luar negeri dari Yordania, Palestina, Qatar, Mesir, Turki, Indonesia, dan Bahrain, serta menteri negara dari Uni Emirat Arab.
Sekretaris Jenderal Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga turut hadir. Pertemuan tersebut menekankan urgensi menangani perkembangan terbaru di wilayah Palestina yang diduduki.
Para peserta mengecam "penargetan warga sipil dan infrastruktur sipil" serta mendesak "kembalinya implementasi penuh gencatan senjata, termasuk pembebasan sandera dan tahanan," menurut pernyataan akhir komite menteri tersebut.
Tentara Israel melancarkan serangan udara di Gaza sejak Selasa, menewaskan lebih dari 700 warga Palestina, melukai lebih dari 1.000 lainnya, serta menghancurkan perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang telah berlaku sejak Januari.
Lebih dari 50.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tewas, dan lebih dari 113.200 lainnya terluka dalam serangan militer brutal Israel di Gaza sejak Oktober 2023.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November lalu terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah tersebut.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hamas sambut pertemuan menteri negara Arab-Islam, desak tekan Israel