Gorontalo (ANTARA) - Kualitas beras Gorontalo seperti di wilayah Kecamatan Kota Utara Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo terancam menurun akibat curah hujan tinggi melanda wilayah tersebut setiap hari.
Buruh tani di salah satu tempat penggilingan padi di Kecamatan Kota Utara Sarton di Kota Gorontalo, Jumat mengatakan dalam dua pekan terakhir sebagian besar wilayah Kota Gorontalo diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
"Aktivitas penjemuran padi mengalami kendala karena musim hujan setiap hari. Kami pun di tempat penggilingan tidak bisa melakukan penggilingan sebelum memastikan bulir padi yang akan digiling benar-benar kering," katanya.
Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada produksi beras hingga dapat berimbas pada menurunnya kualitas.
"Saat ini mayoritas padi dari petani yang dimasukkan ke tempat penggilingan masih dalam keadaan basah. Sehingga memerlukan proses penjemuran yang maksimal. Jika tidak terlalu kering, maka beras yang dihasilkan akan menghitam. Beras dengan kondisi tersebut tentu berdampak pada anjlok-nya harga," katanya.
Dalam dua pekan terakhir, aktivitas penjemuran harus menunggu lima sampai tujuh hari agar padi benar-benar kering.
"Tantangan yang kami hadapi saat proses penjemuran adalah curah hujan yang tidak menentu. Seringkali baru saja dijemur, satu dua jam kemudian hujan deras mengguyur," katanya.
Petani lainnya di Kelurahan Dulomo Utara Ramdani mengatakan meskipun curah hujan masih tinggi, namun masa panen tidak dapat ditunda.
Sementara diperkirakan musim hujan akan berlangsung hingga Februari 2025.
Jika sudah panen kata dia, padi harus segera dijemur untuk menjaga kualitas beras yang dihasilkan.
Harga beras kualitas super saat ini berkisar Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilo gram.
Rata-rata beras Gorontalo memenuhi permintaan pasar lokal dan wilayah sekitar di Pulau Sulawesi.*